CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 15 Februari 2012

cara menulis novel

ulan lalu saya berjanji untuk menyerahkan naskah novel saya ke penerbit. Harus saya akui, saya mengurungkannya: mundur lagi. Ada beberapa hal di dalam novel itu yang harus saya perbaiki dan saya masih mencari-cari cara terbaik. Untuk itu, hari-hari ini saya kembali menggelar karpet di ruang tamu. Buku-buku referensi kembali digelar di sekeliling karpet. Begitu pula naskah yang sudah saya print-out, agar saya bisa mengecek kembali. Komputer sedia setiap saat.
Bagaimanapun, meski saya merasa ada sesuatu yang enggak bener, bukan hal yang gampang untuk melacaknya dimana. Satu-satunya hal yang mungkin saya kerjakan, adalah mengingat-ingat kembali urutan kerja saya. Dalam hal ini disiplin kerja saya cukup memudahkan pelacakan ini. Saya terbiasa bekerja dengan agak metodis. Saya akan menuliskannya di sini, berdasarkan pengalaman saya menulis dua novel sebelumnya. Ini untuk mengingatkan saya, sekaligus barangkali ada yang tertarik mencontek cara kerja saya (hehe):

1. Bab Pertama

Seperti paragraf pertama dalam cerita pendek atau esai, bab pertama dalam sebuah novel selalu saya anggap penting. Bahkan saya tak akan pernah menulis bab kedua jika bab pertama belum yakin. Bab yang lain bisa saya tulis dengan acak, tapi tidak bab pertama. Bab pertama bagaikan resepsionis sebuah hotel, atau percakapan pertama dengan seorang gadis. Jika saya merasa berhasil dengan bab ini, saya bisa merasa yakin dengan keseluruhan novel. Jika bab ini gagal, saya akan merasa sia-sia menyelesaikan sisanya.
Kafka merupakan guru terbaik saya dalam menulis bab pertama. Bagi saya, ia tak hanya terbaik dalam menulis bab pertama, tapi juga yang terbaik dalam menulis paragraf pertama. Perhatikan kutipan dari The Trial: Someone must have traduced Joseph K., for without having done anything wrong he was arrested one fine morning. Atau dari Metamorphosis yang terkenal itu: When Gregor Samsa woke up one morning from unsettling dreams, he found himself changed in his bed into a monstrous vermin. (Terjemahan keduanya bisa berbeda dari satu versi ke versi lain).
Kenapa saya menganggap Kafka istimewa? Dalam karya-karyanya, Kafka selalu langsung masuk ke dalam masalah di kalimat pertama! Tak ada prolog yang bertele-tele. Dan yang terpenting kemudian, ia memberi rasa ingin tahu. Saya tahu ada banyak penulis juga mempergunakan metode ini, tapi saya merasa Kafka merupakan satu yang terbaik.

2. Arsitektur Novel

Mungkin ini tak menyenangkan bagi kebanyakan penulis, tapi saya melakukannya: Sejak awal saya sudah merencanakan berapa bab yang ingin saya tulis. Bahkan lebih dari itu, saya juga merencanakan berapa halaman sebuah novel akan saya tulis. Kalaupun ada perubahan, pasti saya lakukan di akhir, ketika saya mengedit. Sebagai contoh, Lelaki Harimau sejak awal sudah saya bayangkan berisi lima bab, dan Cantik itu Luka sebanyak dua puluh bab (di akhir, saya membuang dua bab, menjadi hanya delapan belas bab).
Kenapa saya demikian ketat soal ini? Pertama-tama, meskipun saya percaya dengan improvisasi, saya juga percaya dengan rancang-bangun sebuah karya. Jika saya merencanakan sebuah novel dalam lima bab, saya bisa merancang-bangun beragam aspek novel tersebut dalam setiap babnya. Di bab berapa saya perkenalkan seorang tokoh? Di bab mana sebuah klimaks harus saya letakkan? Dimana problem baru harus muncul? Mana bab yang mestinya melodrama, dan mana bab yang sebaiknya tragis?
Mungkinkah sebuah karya dirancang aspek kuantitasnya sejak awal (jumlah bab, jumlah halaman)? Bagi saya sangat mungkin. Barangkali karena saya terbiasa menulis dengan batasan tertentu untuk media, saya juga menjadi terbiasa menebak, cerita tertentu bisa saya tulis lima puluh halaman atau tiga ratus halaman. Cantik itu Luka tak mungkin saya tulis hanya dua ratus halaman, begitu pula Lelaki Harimau tak akan pernah saya paksakan ditulis lima ratus halaman. Masing-masing memiliki proporsinya masing-masing.
Dalam hal arsitektur novel, Gabriel Garcia Marquez saya pikir yang terbaik. Kita bisa merasakan aliran yag dinamis dari bab ke bab dalam novelnya. Seperti sebuah alur yang sempurna. Ia bukan tipe penulis yang linear, tapi aliran plotnya tak pernah tersendat. Misalnya, ia selalu melakukan flashback di tempat yang tepat, di bab yang mestinya memang flashback. Bayangkan jika bab kedua One Hundred of Solitude bukan kisah mengenai nenek-moyang keluarga Buendia ketika desa mereka diserang bajak laut Francis Drake. Di bab mana lagi bagian itu bisa ditempatkan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar