CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 30 November 2011

resensi novel orizuka

SMA Athens adalah SMA elite. Tapi, masih saja ada satu yang kurang. Athens tak punya ekskul sepakbola. Inilah yang membuat Lando, Rama, Sid, dan Cokie selama dua tahun selalu datang terlambat. Empat anak paling top yang selalu menjadi langganan paralel itu pun memprotes kepada pihak sekolah.
Yang mereka protes tentu saja guru olahraga mereka, pak Gozali, atau biasa mereka panggil Gozilla. Pak Gozali merupakan guru di sekolah Athens yang terkenal dengan hukumannya yang aneh-aneh. Mereka pun melakukan segala cara untuk membuat Gozali luluh hatinya dan memutuskan membentuk ekskl sepakbola.
Ternyata segala hal yang dilakkan mereka tidak menuai hasil. Hukuman yang diberikan pak Gozali malah semakin menjadi-jadi. Mulai dari yang berat sampai yang memalukan. Mulai dari lari keliling lapangan sampai harus memunguti sampah satu sekolah.
Suatu hari ada seorang anak perempuan yang ‘menemani’ anak-anak tersebut datang terlambat. Namanya Julia. Semua anak merasa aneh karena anak perempuan tersebut sebelumnya tidak pernah datang terlambat.
Ternyata, alasan Julia datang terlambat adalah karena setiap malam di belajar dengan keras untuk bisa masuk kelas khusus. Julia ingin masuk kelas khusus karena orang tuanya sudah tidak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Dan jika masuk kelas khusus, orangtua Julia tidak harus mengeluarkan uang untuk membiayai sekolah Julia. Sid, Lando, Rama dan Cokie pun membantu Julia belajar agar keinginan Julia dapat terwujud.
Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya Julia dapat meraih hasil yang memuaskan pada ujian kenaikan kelas. Julia pun akhirnya dapat diterima di kelas khusus atas bantuan Julia.
Ternyata, masalahpun datang lagi, kali ini karena Gozali mulai dekat dengan Ibu Sid. Sid yang mengetahui ini langsung merasa shock. Tapi, Sid pun kemudian berfikir. Bagaimana jika dia merelakan ibunya menikah dengan Gozali akan tetapi Gozali harus membuka ekskul basket.
Akan tetapi, ternyata Gozali lebih memilih meninggalkan Ibu Sid daripada harus membuka ekskul sepakbola. Ternyata Gozali menyimpan trauma yang teramat dalam tentang sepakbola. Sid dan teman-temannya pun sudah kehilangan akal dan mulai memutuskan untuk menyerah.
Karena mereka sudah duduk di kelas dua belas, dan sebentar lagi mereka akan meninggalkan sekolah Athens. Mereka pun akhirnya mengadakan pertandingan dengan klub espak bola dari SMA 501. Mereka mengadakan pertandingan tersebut sebagai pertandingan perpisahan karena sudah tak mungkin lagi melawan mereka di liga antar SMA.
Pertandingan berlangsung sangat sengit. SMA Athensberhasil unggul terlebih dahulu melalui sontekan Orlando. Namun baru beberapa saaat babak kedua berlangsung, Andri langsung mencetak gol untuk menyamakan kedudukan.
Tak lama berselang, SMA 501 mendapatkan hadiah penalti. Andri yang menjadi algojo pun berhasil membalikkan ketertinggalan. Para pemain Athens tak mau menyerah, mereka terus berusaha untuk mengejar ketertinggalan. Namun, hingga peluit akhir berbunyi, skor masih belum berubah.
Tak dapat dipungkiri lagi jika mereka sangat kecewa dengan hasil tersebut. Mereka keluar lapangan dengan kaku. Ketika keluar lapangan, Sid tak lupa memberi ucapan kepada Andri, kapten sekaligus pencetak gol tim 501. “Great game, akhir yang menyenangkan,” katanya. Namun tiba-tiba terdengar suara “Bukan akhir, tapi awal”.
Ternyata, hati pak Gozali luluh setelah melihat perjuangan anak-anaknya. Pak Gozali pun akhirnya memutuskan untuk membuat ekskul sepak bola di SMA Athens. Hari itu merpakan hari yang bersejarah bagi SMA Athens.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar